FIRST SOLO

Hello Friends,

Kali ini saya mau bercerita tentang “FIRST SOLO”

Apa sih yang dimaksud First Solo?

Saat itu saya sedang menjalai PPL Ground Class saya, dan instruktur berkata bahwa pada saat flight training kita diwaibkan untuk “terbang solo”. Sontak saya pun kaget, ” Hah? Terbang ke Solo?” Hahaha.. Jujur seperti itulah pemikiran awal saya tentang terbang solo pertama kali. Bahwa saya diwajibkan untuk bisa terbang dan landing di Bandara Solo.

Namun, ternyata berbeda jauh dari yang saya pikirkan awalnya. SOLO yang berasal dari bahasa Italia berarti sendiri atau “alone” dalam bahasa Inggris. Jelas menurut etimologi nya, terbang solo adalah terbang yang mewajibkan siswanya dapat membawa pesawat dari posisi di apron (tempat parkir pesawat) lalu taxi sampai ke Runway, lalu Take-Off membuat manuver lalu landing lagi di Runway yang sama.

Terbang Solo adalah saat-saat yang paling dinantikan, diinginkan, dan sekaligus paling menegangkan dari antara semua tahapan pada saat bersekolah di sekolah penerbangan manapun. Pasalnya kita memiliki standard jam maximum untuk mencapai terbang solo kita masing-masing, yaitu 20 jam terbang.Jika sampai mencapai batas target tersebut siswa belum juga bisa diijinkan instrukturnya untuk terbang solo, maka dengan sangat menyesal, proses pendidikan siswa tersebut harus terhenti. Jam terbang solo tiap siswa pun berbeda sesuai dengan pribadi masing-masing. Saya pribadi berhasil menerbangkan sediri pesawat latih saya yang beregistrasi PK-HAG pada tanggal 15 Juni 2010 dengan total 12 jam terbang.

Apa saja yang harus kita kuasai saat akan dilepas untuk terbang solo?

Jelas hal mendasar yang harus kita kuasai adalah manuver basic pesawat, yaitu straight and level, bank(berbelok), climb, descend. Selain itu kita harus menghafalkan prosedur terbang sampai 1000%. Tidak boleh ada satu prosedur pun yang misssed dalam penerbangan. Prosedur adalah harga yang tidak bisa ditawar untuk keselamatan penerbangan. Selain itu kita juga harus peka terhadap “traffic” yaitu pesawat lain yang sedang terbang yang berada di sekitar kita, lalu harus lancar berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) , dan yang tidak kalah penting adalah menguasai sistem navigasi pesawat. Jangan sampai bisa pergi namun tidak bisa pulang.

Jika siswa dilihat sudah menguasai semua aspek tersebut, barulah instruktur terbang akan melepas siswa tersebut untuk melakukan terbang solo perdananya. Disinilah saat-saat yang paling mencengangkan. Saya masih ingat moment First Solo saya pada saat itu, jam 3 sore langit Bandara Budiarto, Curug cerah dan berangin, langitnya mulai kemerahan. BAru saja hujan mengguyur lapangan udara itu. First Solo saya berlangsung secara dadakan. Tiba-tiba instruktur saya meminta saya untuk terbang bersama dia, kami melakukan 2 kali manuver circuit ” touch and go” di atas runway 30. Setelah landing kedua, saya kaget karena instruktur saya meminta pesawat untuk kembali ke apron. Jantung saya sudah mau copot rasanya, ” Ya ampun salah apa saya inii??” itu yang ada di dalam pikiran saya. Manuver ” touch and go” normalnya dilakukan sebanyak 6x. Namun saya di hitungan kedua sudah di-STOP intruktur. “Habis sudah deh saya nih, pasti gara-gara tadi landing jelek.” Itu pikir saya dalam hati.

Setelah sampai di apron, saya merasa aneh karena instruktur saya tidak melaksanakan juga melaksanakan prosedur “shutdown engine”. Wah,.. saya berfikir bahwa saya pasti kena hukuman. Ternyata instruktur saya tak lama bertanya, ” Yor.. Gimana? Mau Solo gak? Sontak saya kaget, ini pertanyaan beneran apa jebakan pikir saya. Tapi dengan mantap saya jawab, “MAU Capt ! ”  Tidak peduli pertanyaan sebenarnya atau jebakan yang penting saya sudah jawab dengan niat dan tegas. ” Ya, kamu terbang solo ya.. buat circuit, 3x saja, buat flapless ya!” (flapless=landing tidak dengan menggunakan flap pesawat), begitu tambah instruktur saya. Wah,.. antara kegirangan dan ketakutan saya lanjut menjawab, “Siap Capt!” dan Capt saya pun meninggalkan pesawat. Di apron teman-teman yang melihat saya saat itu sudah bersorak-sorak, dan memberi semangat!

“Yor, semangat yaaa!!”

“Yora inget yaa,.. terbang harus tenang, terbang gak harus bagus yang penting safe.”

“Yor, gue tunggu disini.. udah siap ngerjain nih setelah lu terbang solo.”

Seorang teman baik pun sempat ada yg datang ke pesawat lalu memberikan kacamata miliknya, ” Yor, ini kacamata punya bokap gue, lu pake ya kalo nanti weather nya hazy, biar lebih jelas.” Hahaha.. sempat-sempatnya pikir saya.

Begitu kira-kira sepintas deru gemuruh senior dan teman-teman yang ada disaat itu. Ada yang memberi semangat, ada yang mendoakan, ada pula yang mengancam siap “jahil” ketika saya landing nanti.

“DI Dalam Nama Yesus” itu yang saya serukan pertama kali. Saya pun mulai memanggil menara pengaawas dan siap untuk menjalankan pesawat latih saya saat itu.

“Budi Ground, PK-HAG ready for taxi.”

Langsung menara pengawas (ATC)  menjawab, ” PK-HAG cleared taxi to holding point RW 30 via taxiway D” , saya pun mengulangi perintah ATC dan pesawat saya pun bergerak. Selama taxi (pergerakan pesawat di ground), saya tidak bisa berhenti memikirkan keluarga saya di rumah. “Mama, Papa,…Aku mau terbang solo…” Yang saaya pikirkan saat itu hanyalah saya ingin kembali dengan selamat. Sesekali saya melirik ke arah belakang pesawat dan masih saja tidak percaya saya benar-benar sendirian! Gak ada orang lain lagi di pesawat selain saya. SO EXCITED! Senang, Takut, semua bercampur. Semua doa yang saya hafal keluar pada saat itu.

Tibalah saatnya saya memasuki Runway dan siap untuk lepas landas. Cuaca saat itu cerah berangin sehabis hujan. Pasti bisa!Pasti bisa! Itu yang terus saya pikirkan. Sekali lagi saya berujar “Dalam Nama Yesus!” dan saya pun tancap gas! Dalam hitungan detik pesawat PK-HAG pun mengudara dan hanya saya seorang di dalamnya. ” WOooooHooo!!” saya berteriak sendiri kegirangan. Saya perhatikan sekali semua prosedur penerbangan yang sudah saya pelajari selama ini, jangan sampai ada 1 pun yang terlewat. Dengan penuh hati-hati saya memperhatikan ketepatan speed, altimeter, dan heading pesawat saya. Tidak boleh ada kesalahan! TIDAK! Setelah melakukan manuver dan circuit pattern , tibalah saya di final Runway 30 Bandara Budiarto. Yaaa,.. inilah saat yang paling dinantikan “MY FIRST SOLO LANDING”, Saya terus memperhatikan ketepatan pesawat saya ” SPEED, SLOPE, CENTERLINE” . Itu yang berkali-kali saya ucapkan. Speed pesawat harus sesuai dengan kecepatan landing, Slope harus tepat dimana pesawat tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi., dan pastinya letaknya di CENTER of Runway”.

“Deeeessshhhhhh!!!!…… Kira-kira seperti itu First Solo Landing Saya” *susah banget digambarkan rasanya*

“WAAAAAA… Saya berteriak, TERIMAKASIH TUHAN!” still 2 more to go. Langsung saya tancap gas untuk kembali mengudara lagi. Saya pun melanjutkan terbang dan landing sempurna di ketiganya. ” Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. itu kata-kata yang saya terus teriakan sambil tidak berhenti tersenyum selagi saya taxi in menuju apron.

Sesampainya di apron semua rekan senior, teman-teman batch saya sudah menunggu sambil bertepuk tangan. Hal ini memang akan ditemukan dalam setiap penerbangan solo perdana. Hampir semua sekolah penerbangan di Indonesia pastilah memiliki “Ritual Mandi Oli” setelah seseorang berhasil sukses terbang solo perdana nya, tidak terkecuali dengan saya. Umumnya untuk siswa penerbang pria mereka akan melepas seluruh pakaiannya dan hanya tersisa pakaian dalam saja. Untuk saya yang wanita, mengenakan kaos dan celana pendek lalu ” byuuurrr” kami pun bermandikan oli sekujur badan. Belum lagi saya mendapat tambahan “rejeki” dengan siraman air buangan AC yang baunya cukup “tak terlupakan” hahaha.. ditambah lagi dengan mencium ban pesawat yang membawa kita solo. Meskipun tidak enak tapi itu pengalaman yang sangat nikmat untuk dikenang.

Anyway, untuk saya dan saya yakin bagi semua penerbang tidak akan pernah melupakan pengalaman terbang solo perdananya. 🙂

 Foto ritual mandi oli setelah terbang solo (15 Juni 2010)

@patriciayora