FIRST SOLO

Hello Friends,

Kali ini saya mau bercerita tentang “FIRST SOLO”

Apa sih yang dimaksud First Solo?

Saat itu saya sedang menjalai PPL Ground Class saya, dan instruktur berkata bahwa pada saat flight training kita diwaibkan untuk “terbang solo”. Sontak saya pun kaget, ” Hah? Terbang ke Solo?” Hahaha.. Jujur seperti itulah pemikiran awal saya tentang terbang solo pertama kali. Bahwa saya diwajibkan untuk bisa terbang dan landing di Bandara Solo.

Namun, ternyata berbeda jauh dari yang saya pikirkan awalnya. SOLO yang berasal dari bahasa Italia berarti sendiri atau “alone” dalam bahasa Inggris. Jelas menurut etimologi nya, terbang solo adalah terbang yang mewajibkan siswanya dapat membawa pesawat dari posisi di apron (tempat parkir pesawat) lalu taxi sampai ke Runway, lalu Take-Off membuat manuver lalu landing lagi di Runway yang sama.

Terbang Solo adalah saat-saat yang paling dinantikan, diinginkan, dan sekaligus paling menegangkan dari antara semua tahapan pada saat bersekolah di sekolah penerbangan manapun. Pasalnya kita memiliki standard jam maximum untuk mencapai terbang solo kita masing-masing, yaitu 20 jam terbang.Jika sampai mencapai batas target tersebut siswa belum juga bisa diijinkan instrukturnya untuk terbang solo, maka dengan sangat menyesal, proses pendidikan siswa tersebut harus terhenti. Jam terbang solo tiap siswa pun berbeda sesuai dengan pribadi masing-masing. Saya pribadi berhasil menerbangkan sediri pesawat latih saya yang beregistrasi PK-HAG pada tanggal 15 Juni 2010 dengan total 12 jam terbang.

Apa saja yang harus kita kuasai saat akan dilepas untuk terbang solo?

Jelas hal mendasar yang harus kita kuasai adalah manuver basic pesawat, yaitu straight and level, bank(berbelok), climb, descend. Selain itu kita harus menghafalkan prosedur terbang sampai 1000%. Tidak boleh ada satu prosedur pun yang misssed dalam penerbangan. Prosedur adalah harga yang tidak bisa ditawar untuk keselamatan penerbangan. Selain itu kita juga harus peka terhadap “traffic” yaitu pesawat lain yang sedang terbang yang berada di sekitar kita, lalu harus lancar berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) , dan yang tidak kalah penting adalah menguasai sistem navigasi pesawat. Jangan sampai bisa pergi namun tidak bisa pulang.

Jika siswa dilihat sudah menguasai semua aspek tersebut, barulah instruktur terbang akan melepas siswa tersebut untuk melakukan terbang solo perdananya. Disinilah saat-saat yang paling mencengangkan. Saya masih ingat moment First Solo saya pada saat itu, jam 3 sore langit Bandara Budiarto, Curug cerah dan berangin, langitnya mulai kemerahan. BAru saja hujan mengguyur lapangan udara itu. First Solo saya berlangsung secara dadakan. Tiba-tiba instruktur saya meminta saya untuk terbang bersama dia, kami melakukan 2 kali manuver circuit ” touch and go” di atas runway 30. Setelah landing kedua, saya kaget karena instruktur saya meminta pesawat untuk kembali ke apron. Jantung saya sudah mau copot rasanya, ” Ya ampun salah apa saya inii??” itu yang ada di dalam pikiran saya. Manuver ” touch and go” normalnya dilakukan sebanyak 6x. Namun saya di hitungan kedua sudah di-STOP intruktur. “Habis sudah deh saya nih, pasti gara-gara tadi landing jelek.” Itu pikir saya dalam hati.

Setelah sampai di apron, saya merasa aneh karena instruktur saya tidak melaksanakan juga melaksanakan prosedur “shutdown engine”. Wah,.. saya berfikir bahwa saya pasti kena hukuman. Ternyata instruktur saya tak lama bertanya, ” Yor.. Gimana? Mau Solo gak? Sontak saya kaget, ini pertanyaan beneran apa jebakan pikir saya. Tapi dengan mantap saya jawab, “MAU Capt ! ”  Tidak peduli pertanyaan sebenarnya atau jebakan yang penting saya sudah jawab dengan niat dan tegas. ” Ya, kamu terbang solo ya.. buat circuit, 3x saja, buat flapless ya!” (flapless=landing tidak dengan menggunakan flap pesawat), begitu tambah instruktur saya. Wah,.. antara kegirangan dan ketakutan saya lanjut menjawab, “Siap Capt!” dan Capt saya pun meninggalkan pesawat. Di apron teman-teman yang melihat saya saat itu sudah bersorak-sorak, dan memberi semangat!

“Yor, semangat yaaa!!”

“Yora inget yaa,.. terbang harus tenang, terbang gak harus bagus yang penting safe.”

“Yor, gue tunggu disini.. udah siap ngerjain nih setelah lu terbang solo.”

Seorang teman baik pun sempat ada yg datang ke pesawat lalu memberikan kacamata miliknya, ” Yor, ini kacamata punya bokap gue, lu pake ya kalo nanti weather nya hazy, biar lebih jelas.” Hahaha.. sempat-sempatnya pikir saya.

Begitu kira-kira sepintas deru gemuruh senior dan teman-teman yang ada disaat itu. Ada yang memberi semangat, ada yang mendoakan, ada pula yang mengancam siap “jahil” ketika saya landing nanti.

“DI Dalam Nama Yesus” itu yang saya serukan pertama kali. Saya pun mulai memanggil menara pengaawas dan siap untuk menjalankan pesawat latih saya saat itu.

“Budi Ground, PK-HAG ready for taxi.”

Langsung menara pengawas (ATC)  menjawab, ” PK-HAG cleared taxi to holding point RW 30 via taxiway D” , saya pun mengulangi perintah ATC dan pesawat saya pun bergerak. Selama taxi (pergerakan pesawat di ground), saya tidak bisa berhenti memikirkan keluarga saya di rumah. “Mama, Papa,…Aku mau terbang solo…” Yang saaya pikirkan saat itu hanyalah saya ingin kembali dengan selamat. Sesekali saya melirik ke arah belakang pesawat dan masih saja tidak percaya saya benar-benar sendirian! Gak ada orang lain lagi di pesawat selain saya. SO EXCITED! Senang, Takut, semua bercampur. Semua doa yang saya hafal keluar pada saat itu.

Tibalah saatnya saya memasuki Runway dan siap untuk lepas landas. Cuaca saat itu cerah berangin sehabis hujan. Pasti bisa!Pasti bisa! Itu yang terus saya pikirkan. Sekali lagi saya berujar “Dalam Nama Yesus!” dan saya pun tancap gas! Dalam hitungan detik pesawat PK-HAG pun mengudara dan hanya saya seorang di dalamnya. ” WOooooHooo!!” saya berteriak sendiri kegirangan. Saya perhatikan sekali semua prosedur penerbangan yang sudah saya pelajari selama ini, jangan sampai ada 1 pun yang terlewat. Dengan penuh hati-hati saya memperhatikan ketepatan speed, altimeter, dan heading pesawat saya. Tidak boleh ada kesalahan! TIDAK! Setelah melakukan manuver dan circuit pattern , tibalah saya di final Runway 30 Bandara Budiarto. Yaaa,.. inilah saat yang paling dinantikan “MY FIRST SOLO LANDING”, Saya terus memperhatikan ketepatan pesawat saya ” SPEED, SLOPE, CENTERLINE” . Itu yang berkali-kali saya ucapkan. Speed pesawat harus sesuai dengan kecepatan landing, Slope harus tepat dimana pesawat tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi., dan pastinya letaknya di CENTER of Runway”.

“Deeeessshhhhhh!!!!…… Kira-kira seperti itu First Solo Landing Saya” *susah banget digambarkan rasanya*

“WAAAAAA… Saya berteriak, TERIMAKASIH TUHAN!” still 2 more to go. Langsung saya tancap gas untuk kembali mengudara lagi. Saya pun melanjutkan terbang dan landing sempurna di ketiganya. ” Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. itu kata-kata yang saya terus teriakan sambil tidak berhenti tersenyum selagi saya taxi in menuju apron.

Sesampainya di apron semua rekan senior, teman-teman batch saya sudah menunggu sambil bertepuk tangan. Hal ini memang akan ditemukan dalam setiap penerbangan solo perdana. Hampir semua sekolah penerbangan di Indonesia pastilah memiliki “Ritual Mandi Oli” setelah seseorang berhasil sukses terbang solo perdana nya, tidak terkecuali dengan saya. Umumnya untuk siswa penerbang pria mereka akan melepas seluruh pakaiannya dan hanya tersisa pakaian dalam saja. Untuk saya yang wanita, mengenakan kaos dan celana pendek lalu ” byuuurrr” kami pun bermandikan oli sekujur badan. Belum lagi saya mendapat tambahan “rejeki” dengan siraman air buangan AC yang baunya cukup “tak terlupakan” hahaha.. ditambah lagi dengan mencium ban pesawat yang membawa kita solo. Meskipun tidak enak tapi itu pengalaman yang sangat nikmat untuk dikenang.

Anyway, untuk saya dan saya yakin bagi semua penerbang tidak akan pernah melupakan pengalaman terbang solo perdananya. 🙂

 Foto ritual mandi oli setelah terbang solo (15 Juni 2010)

@patriciayora

Advertisements

FLYING SCHOOL

Dear Friends,

Kemarin saya sudah bercerita tentang gambaran dasar sekolah penerbangan. Informasi tersebut ternyata kembali mengundang banyak pertanyaan tentang flying school  dari sahabat-sahabat yang tertarik untuk mengikuti pendidikan penerbangan.

Sebelumnya saya akan bercerita tentang sekolah saya terlebih dahulu yaitu Aero Flyer Institute. Disinilah saya menimba ilmu dan menjalani flight training selama 2 tahun untuk mendapatkan license sebagai seorang penerbang.

Aero Flyer Institute (AFI) sejatinya adalah anak perusahaan dari maskapai swasta Batavia Air. Saya adalah salah satu yang beruntung dapat menerima beasiswa penerbang dari Batavia Air, dan bergabung ke dalam keluarga AFI di angkatan ke 9 . Saat saya bergabung di AFI tepatnya pada tanggal 10 September 2009 , saya memiliki teman wanita asal Papua, dia menjadi satu-satunya sahabat perempuan saya yang selalu menemani saya baik di sekolah maupun diluar sekolah. Namun sayang sekali teman wanita saya yang baik ini tidak dapat melanjutkan pendidikannya dan harus kembali ke tanah Papua. Dan pada akhirnya saya adalah satu-satunya wanita di antara 17 pria di angkatan saya.

Aero Flyer memiliki 10 pesawat latih dengan tipe Cessna 150, dan Cessna 172. Dengan Call-Sign PK-HAA sampai PK-HAN yang menghantarkan saya dan teman-teman sampai lulus pendidikan. Saya masih ingat pertama kali saya mengudara dengan pesawat PK-HAH dan pesawat ini terus menjadi pesawat kenangan dan favorit bagi saya.

Selama 2 tahun saya belajar di Aero Flyer, proses pendidikan dibagi menjadi 2 tahap yaitu Ground Training dan Flight Training. Ground training kami tempuh dalam waktu 6 bulan di Batavia Training Center yang berlokasi di Bandara Mas, Cengkareng. Serta flight training selama 1 tahun 6 bulan di Bandara Budiarto, Curug dan Bandara Cakrabuwana di Cirebon.

Tentunya perjuangan saat sekolah pilot tidak semudah belajar menyetir mobil dan juga tidak se-seram yang saya bayangkan. Aero Flyer sangat menghargai siswi wanitanya. Mereka tidak membedakan antara siswa pria dan siswi wanitanya, Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sebagai siswi penerbang saya tetap melakukan sendiri refueling pesawat, mengisi oli pesawat, membersihkan pesawat, mendorong pesawat, mengikuti pelatihan fisik bersama teman-teman pria. Tidak ada keistimewaan juga tidak ada pengucilan disini.

Selama Ground training kami para siswa diajarkan berbagai macam pelajaran basic tentang penerbangan, seperti Aerodinamic, Meteorology, Radio Telephony, Airlaw, Navigation, Power Plant dan masih banyak lagi. Pelajaran ini dijamin terus kita gunakan bahkan sampai kita telah lulus dan menjadi penerbang komersil. Kami juga mengikuti pelatihan Jungle and Sea Survival, bagaimana cara tetap bertahan hidup jikalau kita sampai mengalami “emergency situation” yang mengakibatkan kita harus mendarat darurat di air  ataupun di hutan. Kita benar-benar tidak membawa perbekalan dan belajar bertahan hidup dari alam. Sugguh pengalaman yang manis untuk dikenang tapi tidak mau untuk diulang. Hahaha..

Selama Flight training tentunya adalah masa-masa yang paling seru. Saya masih ingat dengan jelas, 4 Januari 2010. Itu adalah first moment saya mengudara dengan Cessna 172, masih terasa bagaimana perasaan saya waktu itu ketika pertama kali pesawat tersebut naik dan terangkat ke udara karena tangan saya sendiri. That was one of the best moment in my life!!! Awan putih terlihat begitu jelas dari pesawat latih saya membawa saya melintasi area selatan dari Bandara Budiarto di ketinggian 3000 kaki di atas permukaan laut.

Dalam masa pelatihan terbang, semua siswa siswi penerbang diwajibkan harus bisa mnerbangkan pesawat sendiri tanpa bantuan instruktur ( terbang solo ) dalam waktu kurang dari 20 jam. Jika lebih dari pada itu, maka dengan sangat menyesal pendidikan siswa tersebut akan diberhentikan. Moment first solo adalah saat yang paling penting bagi seorang penerbang. Pasti tidak ada satupun penerbang yang melupakan saat terbang solo pertamanya. Setiap seusai terbang solo, kami mempunyai ritual (mandi oli) , dan saya pun sebagai siswi wanita merasakannya. Mencapai First Solo dengan 12 jam pada tanggal 15 Juni 2010, saya pun mengalami ritual yang sama dengan penerbang pria lainnya. Mulai dari mandi oli, disiram air selokan, mencium ban pesawat. Namun karena begitu senangnya pada hari itu, semua siksaan senior pun menjadi tidak terasa dan menjadi kenangan manis di masa sekarang.

Saat ini meskipun Batavia Air memang sudah tidak lagi berkarya di langit Indonesia, namun Aero Flyer masih terus membuka kelasnya dan mengadakan pelatihan bagi calon-calon pilotnya dengan program hingga Multi Engine Rating.

BAGAIMANA MEMILIH SEKOLAH PILOT YANG ‘PAS’ ?

Ada begitu banyak sekolah pilot di Indonesia saat ini. Mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu menghasilkan pilot handal yang bisa berkarya menjadi pekerja langit Indonesia.Namun tentunya ada hal yang membedakan sekolah yang satu dengan yang lain, misalnya adalah lokasi pelatihan, lama nya tempuh pendidikan, program sekolah, fasilitas  sekolah, dll. Itulah yang membuat variasi dari harga sekolah pilot tersebut  Untuk memilih sekolah penerbangan yang cocok dengan kalian pastikan yang sesuai dengan kebutuhan kalian, contoh nya ada sekolah penerbangan yang menyediakan mess ada yang tidak, ada yang lokasinya dekat ada pula yang di luar Jakarta. Itu semua sesuai dengan kebutuhan kalian terutama kesanggupan dana. Sayang sekali saat ini sudah tidak ada lagi beasiswa penerbang yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan Indonesia. Terakhir yang saya ketahui hanya Wings Flying School, namun sayangnya Lion Group masi belum membuka kesempatan kerjanya pada pilot wanita.

BERAPA SIH KISARAN HARGA SEKOLAH PILOT?

Seperti yang saya sebutkan tadi di atas, harga sekolah pilot bervariasi sesuai dengan fasilitas dan paket yang ditawarkan. Kisaran harga sekolah pilot untuk mendapatkan license CPL-IR saat ini adalah 500-800 jt rupiah. (harga terus berubah mengikuti kurs USD)

MAU SEKOLAH DIMANA?

Berikut saya sertakan nama- nama sekolah penerbangan di Indonesia, informasi lebih lengkapnya boleh kalian cari di website sekolah tersebut masing-masing.

  1. Aero Flyer Institute
  2. Alfa Flying School
  3. ATKP Surabaya
  4. Bandung Pilot Academy (BPA)
  5. Bali International Flight Academy (BIFA)
  6. Deraya Flying School
  7. Flybest Flying School
  8. Ganesha Flying School
  9. Global Flying School
  10. Lombok International Flight Academy (LIFT)
  11. NAM Flying School
  12. Perkasa Flying School
  13. Proflight Flying School
  14. Rajawali flying School
  15. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI)

Untuk informasi mengenai masing-masing sekolah penerbang, silahkan kalian cari di website sekolah penerbang tersebut dan menghubungi contact person yang dicantumkan. Saya pribadi mungkin hanya bisa memberikan informasi tambahan untuk sekolah Aero Flyer Institute dan Alfa Flying School (karena adik saya bersekolah disini).Yang menginginkan informasi tentang kedua sekolah tersebut, boleh comment dengan mencantumkan email kalian ya!

Mungkin informasi yang saya miliki kurang lengkap dan masih ada lagi Flying School yang belum saya cantumkan di atas. Jika teman-teman memiliki informasi tambahan mengenai beasiswa penerbang dan daftar flying school tambahan untuk list saya, silahkan boleh tambahkan di comment.

Good luck guys!

Cheers!

@patriciayora

How to become a pilot?

Dear Friends,

Seperti yang kalian tahu, saya yang lahir sebagai seorang perempuan dan memiliki pekerjaan sebagai penerbang mengundang banyak pertanyaan. Ada yah penerbang perempuan? Bagaimana bisa sih menjadi seorang penerbang? Apa syarat dan kualifikasi untuk mengikuti tahapan tes masuk sekolah penerbangan? Karena seperti yang kita ketahui bahwa dunia penerbangan belum begitu banyak dikenal orang dan masyarakat awam masih sangat minim pengetahuan tentang dunia penerbangan dan pekerja langitnya. 

Untuk kalian yang berminat menjadi seorang pilot, yang saya tahu banyak sekali di luar sana saya akan membagikan dan menjawab pertanyaan kalian yang seringkali ditanyakan kepada saya saya.

“Kak Yora, bagaimana sih caranya jadi pilot?”

“Apa saja kak syarat-syarat menjadi seorang peberbang?”

“Gigi aku bolong, aku gabisa jadi pilot?”

“Berapa lama sekolah pilot?”

Buat kalian yang ingin menjadi pilot terutama perempuan-perempuan Indonesia, kesempatan masih terbuka sangat luas sekali di langit Nusantara. Dan untuk informasi jumlah penerbang wanita di Indonesia yang sudah aktif maupun yang sedang mengikuti program pelatihan sudah mencapai 100 orang loh! Angka ini meningkat pesat dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

Seperti yang kita tahu, Bapak Presiden kita yang ke-3  Prof. Dr. B.J. Habibie , adalah satu-satunya ilmuan Indonesia yang berhasil membuat pesawat terbang. Beliau mengetahui bahwa pesawat terbang merupakan alat transportasi yang paling tepat untuk bumi Nusantara kita, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau. Dan sistem transportasi di Indonesia tentulah tidak dapat dilepaskan lagi dari sistem penerbangan udara.

Jadi YA, tentu saja pilot masih sangat dibutuhkan di negri tercinta kita ini.

Okay, sekarang kita mulai dengan tahap-tahap sekolah penerbangan. Sekolah tentulah bertujuan mendapatkan ilmu yang akhirnya akan diamalkan pada saat bekerja. Namun tidak dipungkiri saat tamat sekolah kita membutuhkan ijazah bukan? Nah ketika sekolah pilot, ijazah atau tanda kelulusan kalian adalah dengan mendapatkan “license” atau kalau pengemudi mobil menyebutnya SIM ( Surat Ijin Mengemudi). Pada sekolah penerbangan reguler, gambaran kasarnya license tersebut dibagi menjadi 2 tahap, yaitu:

  1. PPL ( Private Pilot License)

Mendapatkan Private Pilot License adalah proses awal dari sekolah penerbangan, rata- rata minimum kualifikasi unruk mendapatkan license ini adalah dengan mengumpulkan sekitar 50-70 jam terbang. Ketika kalian mendapatkan license PPL berarti kalian telah berhak secara legal untuk mengemudikan pesawat terbang sendiri namun tanpa di pungut bayaran. Dalam hal ini berarti license PPL belum bisa dipakai untuk bekerja. Well, jika kalian berniat untuk sekedar kursus untuk membawa pesawat tanpa menjadikannya mata pencaharian, PPL adalah license yang tepat untuk hobby.

  1. CPL ( Commercial Pilot License)

Commercial Pilot License (CPL)  adalah tahap lanjutan dari Private Pilot License (PPL), jadi untuk meneruskan pendidikan penerbangan guna mendapat CPL tentulah kalian harus terlebih dahulu menyelesaikan tahap PPL. Minimum kuliafikasi untuk mendapatkan License ini adalah 150-160 jam terbang. Dengan mempunyai CPL kalian siap untuk terjun ke dunia airline. Oowohoooo!!

Namun saat ini diperlukan juga kualifikasi tambahan yaitu IR ( Instrument Rating) dan Multi Engine Rating, guna menunjang proses recrutiment kalian nanti.

Jadi sudah terbayang mau ambil yang mana??

 

Sekarang yang perlu diketahui selanjutnya, apa saja persyaratan dasar untuk menjadi seorang penerbang?

  1. Sehat jasmani dan rohani
  2. Umur minimal 17 tahun (maksimal usia tergantung sekolah penerbang  masing-masing)
  3.  Pendidikan minimal SMA/ sederajat
  4. Tinggi badan minimum 165cm  dengan panjang kaki minimum 100cm

Langkah selanjutnya adalah mengetahui tahapan apa saja yang akan dilalui saat tes sekolah penerbangan. Tes sekolah penerbang dibagi menjadi beberapa tahap, dan pastikan kalian harus lolos di setiap tahapnya jika ingin terus berjuang mengejar mimpi kalian.

  1. Psikotes

Psikotes biasanya berlangsung selama 6-8 jam dalam waktu 1 hari. Soal-soal psikotes merupakan soal psikotes standard dengan kenbanyakan soal-soal logika. Biasanya disertakan juga berupa gambar-gambar instrument pesawat.

  1. Tes Potensi Akademik (Matematika,Fisika)

Logika, katrol, bejana, rangkaian listrik,phytagoras,jarak lama tempuh dan waktu

  1. English Proficiency ( TOEFL/ TOEIC)

Minimum score ditentukan masing-masing oleh sekolah penerbangan dan airlines. (biasanya minimum 600)

  1. Medical Check Up

Nah ini dia bagian yang menarik yang jarang ditemui di test penerimaan profesi yang lain. Dalam tes kesehatan kalian akan diperiksa kesehatannya secara terperinci dan menyeluruh, meliputi :

  1. Laboratorium  (darah dan urine) : kolestrol, asam urat, trigliserida, glukosa, dll
  2. Pemeriksaan Fisik : riwayat penyakit, struktur tulang, BMI, tekanan darah dll)
  3. Mata : rabun jauh / dekat, silinder, buta warna
  4. Pendengaran / audiometri
  5. Gigi : jangan sampai berlubang (kawat gigi diperbolehkan)
  6. Rontgen paru-paru
  7. EKG (jantung)

  5. Aptitude test

Ini adalah Tes Bakat Terbang jadi dalam test ini dilihat apa kalian berbakat untuk mengemudikan pesawat dan apakah tekanan serta gaya gravitasi di pesawat mempengaruhi kinerja dan mental kalian. Tes biasanya dilakukan dengan membawa kalian terbang dengan pesawat latih lalu kalian akan diminta untuk mengemudikan pesawat sesuai dengan panduan instruktur. Setelah itu akan dilakukan beberapa manuver untuk dilihat apakah kalian mual/pusing/ketakutan ketika dibawa terbang. Pastikan jangan sampai muntah ya.. hehe..


6.  Wawancara

Tes wawancara biasanya meliputi profile kalian, motivasi menjadi pilot, rumus-rumus matematika dasar, kecepatan jarak dan waktu, lalu  pengetahuan dasar tentang penerbangan seperti kenapa pesawat bisa terbang?

Nah hal-hal diatas merupakan gambaran dasar tentang tes apa saja yang harus dilalui dalam pendaftaran proses penerbangan. Tidak menutup kemungkinan akan ada tes-tes tambahan tergantung pada sekolah penerbangan masing-masing.

Waktu tempuh pendidikan kembali lagi bergantung pada sekolah penerbangan masing-masing. Ada yang berjangka waktu 1 tahun, 18 bulan, 2 tahun atau bahkan hampir 3 tahun.

Baiklah, sementara itu dulu yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat! Untuk teman-teman yang ingin menambahkan informasi mengenai sekolah penerbangan, dengan senang hati saya terima commentnya ya..

Cheers!

@patriciayora